3 Kebiasaan Berbahaya yang Harus Dihindari Saat Berkendara di Hari Hujan

Ketahui risiko fatal dari kebiasaan nyeker, menggunakan jas hujan ponco, dan menyalakan lampu hazard saat berkendara di kondisi hujan. Pelajari cara berkendara aman dengan tips praktis dan solusi alternatif.

3 Kebiasaan Berbahaya yang Harus Dihindari Saat Berkendara di Hari Hujan
Sumber : Istimewa

Berkendara di hari hujan memang menjadi tantangan bagi setiap pengemudi sepeda motor. Selain kondisi jalan yang licin dan visibilitas terbatas, banyak pengendara justru memperparah situasi dengan kebiasaan yang justru menimbulkan risiko kecelakaan. Berdasarkan data Korlantas Polri, sekitar 25% kecelakaan lalu lintas di wilayah Indonesia terjadi saat hujan deras, dengan sebagian besar disebabkan oleh kelalaian pengendara terhadap protokol keselamatan. Berikut tiga kebiasaan paling berbahaya yang sering diabaikan oleh pengendara motor saat cuaca ekstrem.

1. Bahaya Nyeker atau Melepas Alas Kaki

Salah satu kebiasaan paling fatal yang masih umum dilakukan adalah melepas sepatu saat hujan. Meski alasan seperti menghindari kebasahan atau kerusakan sepatu terdengar logis, tindakan ini justru meningkatkan risiko cedera serius. Sepatu berperan penting sebagai pelindung kaki dari benturan, goresan, dan paparan aspal panas. Tanpa alas kaki, setiap goresan atau benturan pada jalan berbatu bisa menyebabkan infeksi serius, terlebih jika kondisi jalan tergenang air.

Lebih parahnya lagi, kaki yang basah dan tanpa sepatu akan kehilangan daya cengkeram pada pedal rem dan kopling. Studi dari Universitas Brawijaya menyebut bahwa pengendara yang nyeker memiliki 3x lebih rentan mengalami kecelakaan saat pengereman mendadak. Selain itu, risiko tergelincir saat melewati genangan air atau jalan berlubang meningkat hingga 50%. Sebagai solusi, gunakan sepatu khusus motor dengan bahan tahan air atau sandal jepit dengan tapak anti-selip.

2. Risiko Maut dari Jas Hujan Ponco

Jas hujan model ponco yang sering dianggap praktis justru menyimpan bahaya laten. Desainnya yang menjuntai menciptakan tiga ancaman utama: pertama, ujung kain yang lembut bisa terlilit pada gir belakang motor, menyebabkan roda terkunci mendadak. Kedua, angin kencang bisa membuat ponco melambai secara tidak terkendali, mengganggu keseimbangan pengendara. Ketiga, bagian belakang ponco sering menutupi lampu rem dan sein, membuat pengendara di belakang sulit membaca sinyal.

Menurut data dari Safety Riding Indonesia, 15% kecelakaan lalu lintas di wilayah Jabodetabek terjadi karena pengendara menggunakan ponco saat hujan. Alternatif yang lebih aman adalah jas hujan model rompi atau jaket dengan desain aerodinamis, yang memberikan visibilitas penuh dan tidak mengganggu sistem pengereman. Pastikan pula jas hujan memiliki reflektor untuk pencahayaan malam hari.

3. Kesalahan Fatal dalam Penggunaan Lampu Hazard

Banyak pengendara percaya menyalakan lampu hazard saat hujan bisa meningkatkan visibilitas. Padahal, praktik ini bertentangan dengan UU No. 22 Tahun 2009 Pasal 121 ayat 1 yang menyatakan lampu hazard hanya boleh digunakan saat kondisi darurat seperti kendaraan mogok atau kecelakaan. Saat hazard menyala, fungsi lampu sein menjadi tidak aktif, menyulitkan pengendara lain memprediksi arah belok.

Cahaya kuning yang berkedip juga berpotensi menyilaukan pengendara lain, terutama di jalan berlapis aspal basah. Solusinya adalah mengaktifkan lampu utama dan lampu belakang merah. Kombinasi ini sudah cukup untuk memberi tanda posisi kendaraan. Jika cuaca sangat buruk, tambahkan lampu sein saat berbelok untuk memberi isyarat jelas.

Langkah Pencegahan Lainnya

Untuk meminimalkan risiko saat berkendara di hujan, lakukan hal berikut: pertama, periksa kondisi ban secara berkala agar tidak mudah selip. Kedua, hindari menuruni jalan curam dengan kecepatan tinggi. Ketiga, jaga jarak aman minimal 2 meter dari kendaraan di depan. Terakhir, siapkan peralatan darurat seperti jaket hujan cadangan, sandal jepit, dan baterai cadangan untuk alat komunikasi.

Terkait