Ini Risiko dan Fakta Terkait Penggunaan Oil Booster pada Oli Mesin Motor

Penjelasan mendalam mengenai dampak negatif penggunaan oil booster untuk oli mesin motor, termasuk risiko ketidakyakinan teknis dan rekomendasi ahli untuk memilih oli berkualitas tinggi.

Oil Booster pada Oli Mesin Motor
Sumber : Istimewa

Seiring dengan perkembangan teknologi otomotif, banyak produsen oli mesin motor menghadirkan berbagai produk inovatif untuk meningkatkan kinerja mesin. Salah satunya adalah oil booster, cairan aditif yang diklaim mampu memaksimalkan fungsi oli. Namun, apakah benar menambahkan oil booster ke oli motor aman? Apa risiko yang mungkin terjadi jika tidak memperhatikan faktor teknis? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami lebih dalam tentang peran aditif dalam oli dan dampak penambahan zat asing di dalamnya.

Oil booster, atau cairan penambah fungsi oli, sering kali dipasarkan sebagai solusi praktis untuk mesin yang terasa berat atau kurang responsif. Produsen mengklaim bahwa produk ini dapat mengurangi gesekan, meningkatkan pelumasan, dan menjaga mesin tetap bersih. Namun, apakah klaim tersebut benar-benar valid dari sisi teknis?

Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ahli konversi energi dari Institut Teknologi Bandung, penambahan oil booster justru bisa berisiko bagi mesin. Beliau menjelaskan bahwa oli modern sudah dirancang dengan komposisi aditif yang seimbang. Aditif tersebut terdiri dari 9 jenis bahan kimia yang bekerja secara sinergis untuk melindungi mesin dari aus, korosi, dan penumpukan deposit. Jika pengguna memaksakan menambahkan cairan aditif lain, kompatibilitas antar bahan ini bisa terganggu, sehingga mengurangi efektivitas oli.

"Oli yang dijual di pasaran sebenarnya sudah memiliki formula yang optimal," papar Pak Yus, sapaan akrabnya. "Penambahan oil booster justru bisa memicu reaksi kimia yang tidak diinginkan, bahkan mempercepat degradasi kualitas oli. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi merusak komponen mesin."

Salah satu risiko utama yang sering diabaikan adalah ketidakyakinan teknis antara aditif pabrikan dan aditif pihak ketiga. Oli premium biasanya menggunakan bahan dasar sintetis atau semi-sintetis dengan formula yang diuji secara ketat. Sementara itu, oil booster yang dijual di pasaran umumnya tidak melalui proses pengujian serupa. Perbedaan sifat kimia antara kedua bahan ini bisa menyebabkan:

  • Penurunan efisiensi pelumasan
  • Peningkatan keasaman oli yang merusak logam
  • Penyumbatan saluran oli akibat pengendapan deposit

Menariknya, beberapa pengguna mengaku merasakan perubahan positif setelah menambahkan oil booster. Mesin terasa lebih enteng dan responsif. Namun, ini bukan berarti produk tersebut aman. Pak Yus menegaskan bahwa efek sementara ini mungkin hanya terjadi pada 500 km pertama pemakaian. Setelah itu, oli bisa kehilangan performa optimalnya karena reaksi kimia yang tidak terkendali.

"Jika Anda ingin mesin tetap terjaga kinerjanya, lebih bijak memilih oli dengan spesifikasi tinggi dari awal. Ini lebih aman dan efektif daripada mengandalkan penambahan aditif," saran beliau. Oli berkualitas tinggi tidak hanya mengandung aditif yang lebih lengkap, tetapi juga dirancang untuk bertahan lebih lama di kondisi ekstrem, seperti suhu tinggi atau beban berat.

Bagi pengendara motor, penting untuk memahami bahwa oli bukan sekadar cairan pelumas biasa. Ini adalah sistem pelindung aktif yang bekerja 24 jam untuk menjaga mesin tetap dalam kondisi prima. Oleh karena itu, memilih oli yang tepat dan menghindari modifikasi tidak perlu justru menjadi kunci utama dalam merawat kendaraan.

Jika Anda merasa mesin motor terasa berat atau kurang responsif, sebaiknya konsultasikan ke bengkel resmi atau teknisi berpengalaman. Bisa jadi masalah tersebut disebabkan oleh faktor lain, seperti karburator kotor, filter udara tersumbat, atau kompresi mesin yang menurun. Jangan tergoda untuk menggunakan oil booster sebagai solusi instan yang justru bisa berbahaya.

Dengan memahami risiko dan fakta di atas, diharapkan pengguna motor bisa membuat keputusan yang lebih bijak dalam merawat kendaraannya. Pilih oli yang sudah teruji kualitasnya, dan hindari praktik penambahan cairan aditif yang tidak dianjurkan oleh ahli teknik otomotif.

Terkait