Sejarah Honda Gyro: Jejak BSA hingga Skuter Tiga Roda Ikonik Jepang
Dari akar BSA ke Honda Gyro, evolusi roda tiga unik.
Highlights:
- Konsep roda tiga punya akar panjang sejak era BSA di Inggris.
- Honda mengembangkan ulang konsep tersebut lewat seri Gyro sejak 1980-an.
- Dirancang untuk kebutuhan niaga perkotaan Jepang.
- Tetap eksis hingga era modern dalam versi listrik.
- Relevan untuk pasar Indonesia yang padat dan dinamis.
Kalau bicara motor roda tiga, banyak orang Indonesia langsung teringat bentor atau motor modifikasi angkut galon. Padahal jauh sebelum itu, konsep roda tiga sudah hadir di Eropa lewat pabrikan seperti BSA (Birmingham Small Arms) di Inggris pada awal abad ke-20. Dan dari benang sejarah itulah, secara tidak langsung, kita bisa menelusuri lahirnya Honda Gyro.
Meskipun Honda mempopulerkannya, teknologi “tilting” (miring) pada roda tiga ini sebenarnya dipatenkan oleh George Wallis dari Inggris pada tahun 1966. Teknologi ini pertama kali digunakan pada BSA Ariel 3 (1970) di Inggris, namun produk tersebut gagal di pasaran. Honda kemudian membeli lisensi teknologi tersebut untuk dikembangkan lebih lanjut. Konsepnya sederhana: mesin motor, rangka ringan, dan platform belakang untuk muatan.
Masuk ke Jepang beberapa dekade kemudian, Honda melihat kebutuhan yang mirip, meski konteksnya berbeda. Jepang tahun 1970–1980-an mengalami pertumbuhan ekonomi pesat dengan kota-kota padat seperti Tokyo dan Osaka. Jalan sempit, lahan parkir terbatas, dan kebutuhan distribusi cepat menjadi tantangan sehari-hari. Di sinilah Honda Gyro lahir pada 1982 melalui model Gyro X.
Gyro X menggunakan mesin dua tak 50 cc, kecil namun tangguh, dengan konfigurasi roda depan tunggal dan dua roda belakang yang bisa miring mengikuti sudut belok. Sistem ini dikenal sebagai “tilting mechanism”. Saat menikung, bodi depan ikut rebah seperti motor biasa, sementara bagian belakang tetap stabil menopang muatan. Solusi cerdas untuk pengantar koran, pizza, hingga barang logistik ringan.
Beberapa tahun kemudian, Honda merilis Gyro Canopy, versi dengan atap transparan dan windshield besar. Di Jepang, motor ini jadi ikon pengantar makanan. Mesin tetap 49 cc, transmisi otomatis CVT, konsumsi bahan bakar irit, dan daya angkut memadai untuk kebutuhan harian. Kecepatan puncaknya memang bukan untuk kebut-kebutan, berkisar 60 km/jam, namun itu sudah cukup untuk lalu lintas perkotaan.
Honda Gyro adalah contoh bagaimana pabrikan membaca kebutuhan pasar secara presisi. Ia lahir bukan untuk gaya, melainkan fungsi. Namun justru dari fungsi itulah muncul karakter unik.
Menariknya, Honda tidak berhenti di era dua tak. Regulasi emisi makin ketat, dan Gyro bertransformasi menjadi mesin empat tak yang lebih bersih. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, hadir Gyro e: versi listrik dengan baterai swap ala Honda Mobile Power Pack. Langkah ini sejalan dengan tren elektrifikasi global sekaligus kebutuhan logistik ramah lingkungan di kota besar.
Kalau kita tarik ke konteks Indonesia, potensi kendaraan seperti Gyro sebenarnya besar. Kota-kota kita padat, layanan pesan-antar makanan dan e-commerce tumbuh pesat. Saat ini kebutuhan tersebut dijawab lewat motor bebek atau skutik biasa yang dimodifikasi box besar. Stabilitas sering jadi kompromi. Dengan konsep tiga roda yang legal dan dirancang sejak awal untuk angkut barang, sebenarnya ada celah pasar yang menarik.
Pertanyaannya, apakah konsumen Indonesia siap menerima bentuk yang tidak lazim? Budaya otomotif kita cenderung emosional. Motor harus keren, gagah, atau sporty. Gyro lebih mirip alat kerja. Namun tren mobilitas urban berubah. Ketika efisiensi dan keselamatan jadi prioritas, desain fungsional bisa saja menemukan momentumnya.
Sejarah Honda Gyro memperlihatkan satu hal penting: inovasi sering lahir dari kebutuhan paling sederhana. Dari BSA yang mencoba solusi praktis di Inggris, hingga Honda yang menyempurnakan konsep itu di Jepang, roda tiga bukan sekadar anomali desain. Ia adalah jawaban atas problem nyata.
Kini, ketika industri otomotif bergerak menuju elektrifikasi dan mobilitas mikro, Gyro terasa semakin relevan. Mungkin suatu hari kita akan melihat versi modernnya berseliweran di Jakarta atau Surabaya, membawa kopi susu literan atau paket belanja daring.
Menurut Anda, apakah motor roda tiga seperti Honda Gyro punya peluang di Indonesia, atau tetap akan dianggap kendaraan “aneh”? Diskusi seperti ini selalu menarik, apalagi sambil ngopi di bengkel langganan.