Ducati Formula 73 2026: Hommage Desmo 750 Super Sport yang Bikin Nostalgia Balap Bangkit
Ducati Formula 73 2026, tribut modern untuk 750 Super Sport legendaris.
Highlights:
- Ducati Formula 73 2026 terinspirasi 750 Super Sport era 1970-an
- Mengusung DNA Desmodromic khas Ducati
- Desain retro balap dengan sentuhan teknologi modern
- Digadang sebagai edisi penghormatan beraroma kolektor
Dunia otomotif, terutama roda dua, selalu punya satu penyakit yang menyenangkan: rindu masa lalu. Dan Ducati paham betul bagaimana cara meraciknya. Kabar tentang Ducati Formula 73 2026 langsung memantik memori ke era emas 750 Super Sport, motor balap yang membentuk reputasi Ducati sebagai pabrikan dengan karakter keras kepala, berisik, dan sangat Italia.
Nama “Formula 73” jelas bukan kebetulan. Angka itu merujuk pada 1973, periode ketika 750 Super Sport berjaya di ajang balap dan membangun kultus Desmo di seluruh Eropa. Konsep 2026 ini disebut sebagai hommage, sebuah penghormatan yang dirancang untuk merangkum aura klasik tanpa terjebak menjadi motor retro tempelan.
Buat yang tumbuh besar dengan poster motor di kamar, 750 Super Sport bukan sekadar mesin 748 cc L-Twin berpendingin udara. Ia adalah simbol perlawanan Italia terhadap dominasi Inggris dan Jepang saat itu. Sistem Desmodromic yang menjadi ciri khas Ducati membuat bukaan katup dikontrol mekanis penuh, bukan sekadar pegas. Karakternya unik, respons gasnya terasa mentah dan jujur.
Formula 73 2026 disebut membawa kembali siluet tangki membulat, fairing setengah ala endurance racer, serta buritan ramping yang mengingatkan pada 750 SS Imola. Namun di balik estetika klasik itu, platformnya kemungkinan besar memakai basis modern Ducati, entah turunan SuperSport 950 atau pengembangan mesin L-Twin terbaru agar tetap memenuhi regulasi emisi Euro masa kini.
Sebagai pengamat yang sudah melihat Ducati naik turun sejak era 916 hingga Panigale V4, saya melihat pola yang menarik. Ducati selalu tahu kapan harus menatap depan, kapan harus membuka album lama. Formula 73 terasa seperti jeda di tengah era superbike 200 hp yang makin digital. Sebuah ruang bernapas bagi penikmat mekanika murni.
Kalau benar diproduksi terbatas, motor ini jelas mengincar kolektor global. Strategi seperti ini bukan hal baru. Pabrikan Eropa paham bahwa pasar premium haus akan cerita. Dan cerita balap selalu punya magnet kuat.
Pasar motor Indonesia memang dikuasai skutik dan sport entry level. Namun segmen big bike tumbuh stabil, terutama untuk merek premium. Kita melihat komunitas Ducati di Jakarta, Bandung, hingga Surabaya semakin solid. Model seperti Panigale atau Multistrada memang masih jadi tulang punggung, tetapi motor edisi khusus selalu punya daya tarik tersendiri di kalangan kolektor Tanah Air.
Dalam beberapa tahun terakhir, tren motor retro modern juga naik daun. Lihat saja bagaimana segmen heritage berkembang, dari pabrikan Jepang hingga Eropa. Konsumen Indonesia makin menghargai desain klasik dengan teknologi kontemporer. Formula 73 akan masuk ceruk itu, segmen kecil namun loyal.
Dari sisi bisnis, langkah Ducati masuk akal. Menguatkan identitas Desmo berarti mempertegas diferensiasi. Di tengah gempuran motor listrik dan era serba sunyi, suara L-Twin Desmodromic tetap punya tempat di hati penggemar. Mesin bukan sekadar alat transportasi, ia adalah pengalaman.
Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah Formula 73 akan menjadi sekadar karya nostalgia mahal, atau benar-benar motor yang bisa dinikmati di jalan?
Saya pribadi berharap Ducati menjaga keseimbangan. Jangan terlalu steril seperti museum berjalan. Biarkan ia tetap liar, tetap punya karakter yang membuat pengendara tersenyum setiap membuka gas.
Karena pada akhirnya, motor legendaris lahir dari keberanian. Dan Ducati sudah membuktikan sejak 1973 bahwa mereka tidak pernah takut tampil berbeda. Kalau Formula 73 benar hadir pada 2026, kita mungkin sedang menyaksikan bab baru dari kisah lama yang belum selesai. Bagaimana menurut Anda, apakah motor seperti ini layak masuk garasi kolektor Indonesia, atau cukup jadi poster di dinding impian?