TVS Aegis Rider Vision Helmet: Helm Pintar dengan Kamera & HUD
Helm TVS dengan HUD dan kamera 360 derajat.
Highlights:
- Helm pintar dengan teknologi Head-Up Display (HUD)
- Dilengkapi kamera wide-angle untuk visibilitas lebih luas
- Navigasi dan notifikasi tampil langsung di visor
- Dikembangkan oleh TVS untuk meningkatkan keselamatan rider
Dunia roda dua makin canggih. Motor sudah punya layar TFT, konektivitas Bluetooth, bahkan riding mode berlapis-lapis. Kini giliran helm yang naik kelas. Lewat TVS Aegis Rider Vision Helmet, pabrikan asal India, TVS Motor Company, mencoba membawa teknologi yang biasanya kita lihat di jet tempur ke kepala pengendara harian.
Aegis Rider Vision bukan sekadar helm dengan speaker Bluetooth. Di dalamnya tersemat sistem Head-Up Display atau HUD yang mampu memproyeksikan informasi langsung ke visor. Navigasi, kecepatan, hingga notifikasi penting bisa terlihat tanpa perlu menunduk ke panel instrumen. Bagi pengendara komuter di kota padat seperti Jakarta, fitur semacam ini terdengar menggoda.
Helm ini juga dibekali kamera wide-angle yang memberikan sudut pandang lebih luas. Beberapa laporan menyebutkan sudut pandangnya mendekati 360 derajat dengan bantuan sensor dan sistem pemrosesan visual. Artinya, blind spot bisa diminimalkan.
Secara desain, Aegis Rider Vision tampil modern dengan garis tegas dan modul teknologi terintegrasi rapi. Bobot tentu menjadi perhatian utama dalam helm pintar. TVS mengklaim distribusi beratnya dirancang seimbang agar tidak membebani leher saat perjalanan jauh. Material cangkangnya disebut menggunakan komposit berkekuatan tinggi yang tetap ringan.
Dari sisi konektivitas, helm ini terhubung dengan smartphone melalui aplikasi khusus. Pengendara dapat mengatur tampilan HUD, navigasi, bahkan kemungkinan fitur perekaman perjalanan. Konsepnya mirip dashcam yang ditempel di kepala.
Kalau kita tarik ke pasar Indonesia, pertanyaannya sederhana: apakah helm pintar seperti ini siap diterima? Kita tahu, kesadaran keselamatan berkendara memang meningkat, namun harga masih menjadi faktor utama. Helm konvensional premium saja sudah menyentuh angka jutaan rupiah. Helm dengan HUD dan kamera tentu akan berada di level lebih tinggi.
Di sisi lain, tren gadget riding terus berkembang. Intercom sudah lazim. Action cam menjadi perlengkapan standar sebagian rider touring. Artinya, pasar untuk teknologi tambahan sebenarnya ada. Tinggal bagaimana positioning dan distribusinya.
Namun ada hal yang perlu dicermati. Distraksi visual bisa menjadi pedang bermata dua. Informasi yang terlalu ramai di visor berpotensi mengganggu fokus. Implementasi antarmuka akan sangat menentukan apakah teknologi ini benar-benar membantu atau justru membebani.
Di India, pasar domestik TVS memang besar dan sangat kompetitif. Inovasi menjadi cara untuk tampil beda. Jika sukses, bukan tidak mungkin teknologi serupa akan merambah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Pertanyaannya, apakah rider kita siap memakai helm dengan layar di depan mata? Atau justru lebih nyaman dengan pendekatan minimalis dan fokus penuh ke jalan?
Teknologi selalu datang membawa janji. Pada akhirnya, pengendara yang menentukan apakah ia menjadi alat bantu atau sekadar gimmick. Diskusi soal helm pintar ini baru saja dimulai, dan menarik untuk kita ikuti ke mana arahnya.