Sejarah Helicak di Indonesia: Dari Helikopter Becak Jadi Transportasi Ikonik yang Hilang

Helicak, transportasi unik Jakarta era 1970-an, lahir dari upaya modernisasi angkutan umum.

Sejarah Helicak di Indonesia
Sumber : Istimewa

Highlights:

  • Helicak adalah transportasi roda tiga unik yang wara-wiri di Jakarta era 1970-an
  • Nama gabungan “helikopter” dan “becak”, menunjukkan karakter desainnya
  • Diluncurkan oleh Gubernur Ali Sadikin pada 1971 sebagai pengganti becak
  • Memakai mesin skuter Lambretta 150 cc dari Italia
  • Umurnya pendek, hanya bertahan sekitar lima tahun sebelum digantikan bajaj dan moda lain

Kalau kamu tumbuh di Jakarta atau sering melihat foto-foto lama kota ini, ada satu nama transportasi yang jarang dibahas tapi punya kisah warna tersendiri — Helicak. Di antara sederet moda angkutan jadul, dari oplet hingga bemo, Helicak adalah salah satu yang punya cerita paling unik dan hampir terlihat seperti prototipe mobil masa depan bagi warga Jakarta tahun 1970-an.

Kita mulai dari asal nama. “Helicak” adalah singkatan dari helikopter dan becak. Bukan karena bisa terbang, tetapi karena desain kabinnya yang bulat menyerupai helikopter mini, sekaligus fungsi sosialnya yang mirip becak: angkutan untuk dua penumpang dengan pengemudi di belakang.

Transportasi ini pertama kali diluncurkan pada 24 Maret 1971 oleh pemerintahan Gubernur Ali Sadikin. Saat itu, Jakarta sedang dalam era perubahan besar: modernisasi kota, pembangunan infrastruktur, dan penataan transportasi umum yang mulai ditata lebih sistematis. Becak tradisional dianggap kurang manusiawi oleh pemerintah saat itu, sehingga lahirlah gagasan untuk membuat “becak bermesin”.



Hal yang menarik: Helicak memakai mesin dan bodi utama dari skuter Lambretta 150 cc yang diimpor langsung dari Italia. Dengan tenaga sekitar 8–9 dk, ia bisa mencapai kecepatan cukup lumayan untuk jalan kota kala itu. Kabinnya terbuat dari rangka besi dengan dinding serat kaca, sehingga penumpang terlindung dari panas, hujan, ataupun debu jalanan.

Kalau kamu pernah melihat foto atau klip jadul Jakarta, Helicak rajin wara-wiri di kawasan pusat Ibu Kota seperti Thamrin, Tanah Abang, atau Monumen Nasional. Kehadirannya membuat orang Jakarta saat itu sering bertanya: apakah ini becak baru, kendaraan urban, atau sekadar mainan futuristik?

Helicak sempat populer di awal 1970-an, bahkan dipakai juga di kota lain seperti Yogyakarta, Surabaya, dan Salatiga sebagai percobaan transportasi umum. Namun, popularitasnya tidak bertahan lama. Masalah keamanan jadi sorotan utama.



Posisi penumpang yang berada di depan kabin membuat mereka lebih rentan saat terjadi tabrakan atau huru-hara lalu lintas. Sementara pengemudi yang berada di belakang harus rela tanpa pelindung, kepanasan, atau kehujanan langsung ketika cuaca ekstrem datang.

Dari pengalaman bertahun-tahun meliput perkembangan transportasi Jakarta, saya sering menyaksikan nostalgia juga kritik di forum komunitas dan perbincangan warga lama ibukota. Banyak yang menceritakan bahwa naik Helicak terasa seperti “naik becak masa depan”, tetapi rasa aman rendah. Itu jelas jauh berbeda dengan ekspektasi warga terhadap kendaraan umum yang sehat dan efisien saat itu.

Sebagai moda angkutan umum, Helicak punya umur yang tergolong sangat singkat. Dari peluncurannya pada 1971, moda ini hanya beroperasi kurang lebih sekitar lima tahun sebelum mulai digantikan oleh kendaraan lain seperti bajaj asal India yang mulai memasuki pasar transportasi kota. Bajaj dinilai lebih praktis, mudah dirawat, dan lebih ramah bagi pengemudi serta penumpang.



Beberapa sumber bahkan menyebut bahwa pada puncak awalnya Jakarta memiliki ratusan unit Helicak sekitar 400 unit, namun seiring waktu jumlah unit itu terus menyusut. Pada tahun 1987, moda ini resmi dilarang beroperasi di Ibu Kota, mengakhiri kiprahnya di jalan-jalan Jakarta.

Helicak mungkin hanya berjalan beberapa tahun, tapi jejaknya cukup kuat sebagai bagian dari sejarah transportasi Jakarta. Saat banyak orang kini bergantung pada ojek online, MRT, LRT, dan Transjakarta, tidak ada salahnya menoleh ke belakang dan mengingat bagaimana kota pernah bereksperimen dengan moda unik seperti ini.

Melihat sejarah Helicak, saya sering berpikir tentang bagaimana caranya menghadirkan solusi transportasi yang benar-benar sesuai kebutuhan warga. Kota-kota besar Indonesia hari ini berjuang dengan kemacetan, polusi, dan kebutuhan mobilitas jutaan orang. Sekilas cerita helicak memberi pelajaran: inovasi harus selalu dibarengi dengan faktor keselamatan, kenyamanan, dan keberlanjutan operasional.



Kalau Jakarta pernah punya Helicak, bukankah kini saatnya kita mengenang konsep-konsep berani seperti itu sambil terus menyempurnakan solusi mobilitas masa kini?

Terkait