Sejarah Legendaris Suzuki Shogun di Indonesia: Dari Kebo Sampai Axelo

Jejak Suzuki Shogun di Indonesia: generasi Kebo, 125, Robot sampai Axelo.

Sejarah Legendaris Suzuki Shogun di Indonesia: Dari Kebo Sampai Axelo
Sumber : Istimewa

Highlights :

  • Lahirnya Shogun Kebo, bebek 4-tak pertama Suzuki di Indonesia
  • Evolusi mesin dari 110 cc ke 125 cc
  • Varian sport seperti Shogun SP dengan kopling manual
  • Desain tegas generasi “Robot”
  • Penutupan era Shogun lewat Shogun Axelo (2011–2014)

Sebagai penggemar otomotif klasik (apalagi bebek legendaris), gue selalu senang ngulik kisah Suzuki Shogun — motor yang pernah jadi jagoan di jalanan Indonesia. Perjalanan Shogun dari masa keemasan sampai akhirnya pamit layak banget disebut “kisah jenderal bebek”.

Awal Era: Shogun Kebo



Semua bermula di pertengahan 90-an, ketika Suzuki merilis Shogun 110 alias “Kebo” (kode FD110). Motor ini adalah bebek 4-tak pertama Suzuki di Indonesia dan tampil dengan bodi yang mirip Tornado. Mesin 109 cc SOHC, karburator Mikuni, dan CDI yang agresif membuatnya jadi motor cepat dan tangguh di jamannya. Bahkan top speed-nya bisa tembus ~120 km/jam versi odometer. 

Selain performa, Kebo punya ciri khas fisik yang “besar” dan agak bongsor — wajar dipanggil “kebo” (sapi) oleh para biker. Generasi ini juga pernah merilis versi dengan rem cakram di depan tahun 1997. 

New Shogun 110: Ramping dan Stylish


Setelah Kebo, Suzuki memperkenalkan New Shogun 110 (1999–2004). Desainnya jadi lebih ramping, simpel, dan sporty. Mesinnya masih tetap 110 cc seperti Kebo, tapi tampilannya yang lebih modern bikin generasi ini punya daya tarik tersendiri. Ada juga iklan legendaris dengan Mamiek Prakoso, yang bikin nama Shogun makin melekat di benak masyarakat. 

Shogun 125: Upgrade Tenaga dan Gaya


Di tahun 2004, Suzuki berani naikin taruhannya dengan menghadirkan Shogun 125. Mesin naik jadi 124 cc, dan performanya semakin kompetitif. Selain versi standar, muncul juga Shogun SP (Sport Production) yang punya kopling manual dan aura lebih sporty — velg racing, sayap undercowl, dan tenaga yang cukup menjanjikan.

Era Robot: New Shogun 125
Tahun 2008 jadi momen unik, karena Suzuki memperkenalkan New Shogun 125 dengan desain kotak dan tajam — banyak biker menyebutnya “Shogun Robot”. Salah satu fitur teknisnya adalah engine balancer untuk getaran lebih halus. Dalam era ini, ada banyak varian: dari yang jari-jari sampai velg racing, dari rem cakram ganda hingga kopling manual. 

Shogun Axelo: Penutupan Kisah


Puncak (atau bisa dibilang penutup) kisah Shogun adalah Shogun Axelo yang keluar di tahun 2011 dan berhenti diproduksi di 2014. Nama “Axelo” sendiri dari gabungan Acceleration dan Low Emission, menandakan semangat kencang tapi ramah lingkungan. 

Desain Axelo sangat tajam dan agresif: lekukan bodinya lebih sulit, dengan sein di sayap dan undercowl, plus knalpot chrome & velg racing. Varian yang ditawarkan: standar (velg jari-jari), tipe S (rácing + double disc), dan tipe R (kopling manual). Tapi sayangnya, Shogun Axelo gagal mendapatkan sambutan besar dari pasar. Era matic mulai menguasai, dan motor bebek legendaris ini akhirnya disuntik mati. 

Kenapa Shogun Begitu Legenda bagi Biker
Menurut gue, daya tarik Shogun bukan cuma soal performa, tapi juga karakternya yang unik: dari Kebo yang brutal, ke Shogun 125 yang sporty, sampai Axelo yang futuristik. Motor ini pernah jadi simbol inovasi Suzuki di segmen bebek, dan meskipun sudah menghilang, banyak komunitas pecinta Shogun yang tetap eksis. 

Jadi, buat para biker nostalgia atau yang baru kenal Shogun, kisah Shogun ini tuh bagian penting dari sejarah motor bebek di Indonesia.

Terkait